Batu dan Aku

Batu dan Aku

(Iwan Abdurrahman, Purbalingga, 20 Juli 2009)

Batu…
Kemarin, saat ini, esok, dan selamanya sebagai salah satu temanku
Engkau ada sebelum adanya aku
Engkau tercipta membentuk bumi dalam skala waktu

Batu…
Terlahir dengan terlebur, terendapkan atau termalihkan dalam ruang dan waktu
Di perut bumi atau permukaan bahkan di palung laut yang dalam itu
Engkau menjadi bagian dari batuan sedimen, malihan ataupun beku
Engkau adalah padat, homogen, alamiah, terdiri dari mineral dan berstruktur tertentu

Batu…
Engkau telah ada di saat kelahiranku
Membentuk rumah yang kokoh dengan susunanmu
Bahkan kadang menjadi mainan di saat kecilku

Batu…
Aku memulai lebih mengenalimu di masa kuliahku
Aku mendeskripsi dari warna, bentuk, keras, gores, lapisan dan mineral penyusunmu
Aku mencoba menganalisis jenis dan pembentukanmu

Batu…
Di permukaan bumi aku mencoba mempelajarimu
Satu bulanan di lapangan Karsam-Kebumen aku mengenalimu
Dua tahunan di hutan Kalimantan aku mencarimu
Enam bulanan di gunung Sulawesi aku memetakanmu
Satu mingguan di bukit Sumatera aku menjelajahimu

Batu…
Di bawah permukaan bumi aku juga mencoba mengenalimu
Hampir dua tahun terakhir ini aku mempelajarimu
Engkau nampak sebagai formasi batuan di layar komputer kerjaku
Dari penampang seismik itu kumencoba untuk menafsirkanmu

Batu…
Engkau senantiasa bertasbih memuji-Nya dengan caramu
Engkau juga berdo’a dan bersujud kepada-Nya di setiap waktu
Engkau melakukannya di antara daur kerjamu
Bahkan keberadaanmu jadi salah satu jalan rezekiku
Dan semuanya sudah sepantasnya jadi pelajaran berharga bagiku

Batu…
Engkau kelak mungkin masih ada setelahku
Menjadi penanda ‘rumah masa depanku’ dengan bongkahmu
Tak perlu berdinding dan berkapur nisanku

Dengan Kehendak-Nya kita kan menjadi tanah menyatu
Batu dan aku…

**************************
Inspirasi:

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Alloh. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44)

“Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Alloh, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? …” (QS. Al-Hajj- 18)

“Tidakkah engkau tahu bahwa kepada Alloh-lah bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) berdo’a dan bertasbih. Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nuur: 41)

Sebuah hadist yang diriwayatkan dari Jabir:
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengkapur kuburan, melarang duduk di atasnya dan melarang mendirikan bangunan di atasnya.” (HR. Muslim).

Di dalam kitabnya Tirmidzi meriwayatkan hadist dari Jabir secara marfu’ bahwa, “Rasulullah melarang mengkapur kuburan, melarang menulis sesuatu pada kuburan dan dilarang menginjaknya”. (HR. Tirmidzi dan beliau mengatakan bahwa derajat hadist tersebut hasan).

Adanya perlakuan-perlakuan tertentu yang dilarang Rasulullah tersebut disebabkan yang dpat membuat kuburan menjadi perantara (wasilah) menuju kesyirikan, yakni dengan menggantungkan harapan pada kuburan. Kuburan yang dihiasi sedemikian rupa, sangat mungkin akan membuat orang yang lemah akidah dan tipis iman, serta orang yang tidak memiliki pengetahuan agama (jahil) akan menjadikan kuburan sebagai tempat bergantung.
Mengagungkan kuburan dengan mendirikan bangunan pada kuburan tersebut merupakan cikal bakal terjadinya kesyirikan atau perbuatan syirik di alam semesta.

Menghina kuburan, dengan berjalan diatasnya, menginjaknya dengan sandal, duduk di atasnya, menjadikannya tempat sampah dan tempat buang air adalah haram hukumnya. Sebagaimana sebuah hadist yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’ (yakni sampai ke Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam):
“Sungguh, lebih baik bagi kalian duduk di atas bara api yang membakar pakaian hingga kulitnya, daripada kalian duduk diatas kuburan.” (HR. Muslim).

Yang diperbolehkan ialah hanya meletakan batu setinggi satu jengkal sebagai tanda bahwa di situ ada yang dikubur. Hal itu karena rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukannya ketika beliau meletakan sebuah batu di kuburan Utsman bin Madh’un, beliau mengatakan: “Supaya aku bisa menandai kuburan saudaraku”. (HR. Abu Dawud dengan Sanad Hasan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: