Takdir atas Musibah, bukan atas Kesalahan

Takdir atas Musibah, bukan atas Kesalahan

Ketika Anda bepergian, kemudian Anda tertimpa kecelakaan, kemudian seseorang berkata, “Kenapa Anda bepergian? Seandainya Anda tetap di rumah, niscaya tidak terjadi apa-apa dengan Anda.” Anda akan menjawabnya, “Ini adalah takdir Alloh, Saya tidak bepergian agar tertimpa musibah, namun Saya keluar untuk keperluan kemudian ditimpa musibah!” Dengan demikian, alasannya (hujjahnya) dengan takdir atas musibah yang terjadi adalah alasan yang benar.

Contoh lain, ada orang melakukan dosa, kemudian menyesali dosanya tersebut dan bertaubat. Seorang saudaranya datang dan berkata kepadanya. “Wahai Fulan! Bagaimana hal ini bisa terjadi pada Anda?” Dia menjawab, “Ini sudah takdir Alloh.” Apakah alasan (hujjah) seperti ini benar? Ya, dia benar karena ia telah bertaubat. Dia tidak beralasan dengan takdir untuk meneruskan maksiatnya, tetapi dia menyesali dan bertaubat.

Hal itu berbeda dengan kisah dari Rasululloh Salallahu A’laihi Wasallam. Suatu malam beliau masuk ke rumah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Fatimah radhiyallahu ‘anha. Beliau bersabda, “Kenapa kalian berdua tidak sholat?” Ali radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Wahai Rasululloh! Sesunggguhnya jiwa-jiwa kami berada di tangan Alloh. Jika Alloh berkehendak, Dia akan membangunkan kami.” Rasululloh Salallahu A’laihi Wasallam berpaling sambil memukul pahanya kemudian membaca, “Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (QS. Al-Kahfi:54) (HR. Bukhari).

Rasululloh Salallahu A’laihi Wasallam tidak menerima alasan Ali radhiyallahu ‘anhu, dan menjelaskan bahwa hal tersebut termasuk sikap membantah. Rasululloh Salallahu A’laihi Wasallam mengetahui bahwa jiwa berada di tangan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, namun beliau ingin agar orang-orang rajin dan berusaha untuk bisa bangun dan sholat malam.

Kesimpulannya menjadi jelas bagi kita, bahwa beralasan dengan takdir atas musibah adalah diperbolehkan. Begitu juga beralasan dengan takdir atas maksiat setelah ia bertaubat, juga diperbolehkan. Adapun beralasan dengan takdir atas maksiat untuk membenarkan sikap seseorang atau untuk terus melakukannya, tidak diperbolehkan.

Referensi:
Dakhilullah bin Bukhait Al-Muthrafi. 2007. “Fatwa-Fatwa tentang Takdir“.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: