Evaluasi Kegiatan G. Slamet Jawa Tengah 5 Mei 2009

Evaluasi Kegiatan G. Slamet Jawa Tengah 5 Mei 2009

I. Pendahuluan

Gunungapi Slamet secara administratif terletak di wilayah Provinsi Jawa Tengah dan masuk ke dalam 5 wilayah, yaitu Kabupaten Purbalingga, Tegal, Brebes, Banyumas, dan Pemalang Provinsi Jawa Tengah. pada tanggal 23 April 2009 pukul 18:00 WIB aktivitas vulkaniknya dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III). untuk memantau perkembangan aktivitas vulkaniknya dilakukan pemantauan secara kontinyu dengan metoda visual, kegempaan, pemantauan secara periodik unsur kimia air dan gas di sekitar sumber air panas, dan pengukuran gas SO2 dengan alat DOAS, guna mengetahui tingkat aktivitas G. Slamet.

Berikut disajikan evaluasi kegiatan G. Slamet 23 April 2009 sampai dengan 5 Mei 2009.

II. Pemantauan Visual

Pemantauan secara visual aktivitas G. Slamet dilakukan dari Pos Pengamatan G. Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Pantauan ke arah G. Slamet umumnya tertutup kabut, sedangkan pada saat cuaca cerah dapat teramati letusan dari puncak G. Slamet diiringi lontaran lava pijar yang jatuh kembali di sekitar kawah dengan asap letusan berwarna putih tipis hingga kelabu dan ketinggian berkisar antara 100 – 800 meter (dominan 600 meter) dari puncak. Sesekali terjadi letusan abu bertekanan sedang yang disertai suara gemuruh terdengar hingga di Pos Pengamatan G. Slamet.

1. Pengamatan visual dari Kp. Sawangan teramati adanya 4 (empat) titik kegiatan yang memanjang berarah barat-timur. Titik pusat kegiatan letusan asap berada pada bagian paling barat, sedangkan sisanya berupa hembusan asap berwarna putih tebal dengan ketinggian berkisar antara 100 hingga 500 m.

2. Pada malam hari letusan tersebut teramati lontaran material pijar, lontaran material pijar tersebut jatuh kembali di sekitar kawah. Sinar api sesekali teramati dengan ketinggian berkisar antara 25 m hingga 100 m.

III. Kegempaan

Pemantauan kegempaan G. Slamet hingga saat ini didominasi oleh gempa letusan yang menunjukkan adanya peningkatan jumlah kejadian.

Pada saat dinaikkan statusnya menjadi Siaga (23 April 2009), tercatat gempa letusan G. Slamet sekitar 200 kejadian tiap hari.

Sejak tanggal 28 April 2009, tercatat peningkatan jumlah gempa letusan yang mencapai lebih dari 300 kejadian perhari, hingga 4 Mei 2009 tercatat 596 kejadian gempa letusan.

Dari data RSAM (Real Time Seismic Amplitude Measurement) yang mencerminkan energi Gempa Letusan menunjukkan fluktuasi secara acak, tidak menunjukkan adanya peningkatan maupun kecenderungan penurunan energi letusan.

IV. Pemantauan Kimia Gas

Pada tanggal 1 Mei 2009 dilakukan pemantauan emisi gas SO2 dari asap letusan G. Slamet menggunakan alat DOAS. Sebagai stasiun pemantauan, dipilih lokasi di sekitar Guci, karena jarak titik ukur terhadap puncak cukup ideal.

Hasil pemantauan emisi gas SO2 pada 1 mei 2009 menunjukkan 34-106 ton/hari, dengan rata-rata 67 ton/hari.

Emisi gas SO2 pada 2 mei 2009 menunjukkan antara 85-200 ton/hari, dengan rata-rata 148 ton/hari.

Pemantauan emisi gas SO2 dari asap letusan sering tidak dapat dilakukan, karenan oleh kabut.

Pemantauan gas di wilayah Guci dan di sekitar mata air panas Pasepuhan dan Pandansari tidak terpantau/tidak ada indikasi gas-gas yang berbahaya bagi kehidupan.

V. Pemantauan Suhu Air Panas
Hasil pemantauan suhu air panas di Pasepuhan dan Pandansari, disajikan pada grafik (dapat dilihat pada file evaluasi).

VI. Evaluasi

Hasil pemantauan aktivitas vulkanik G. Slamet dengan beberapa metoda sejak status kegiatannya dinaikkan menjadi Siaga (Level III), menunjukkan suatu pola kegiatan yang berfluktuatif. Tidak menunjukkan pola peningkatan maupun penurunan secara signifikan.

Ketinggian asap letusan masih tampak berfluktuasi dengan kisaran 400 – 800 meter, dominan 500 meter dari bibir kawah. Demikian pula dengan warna asap tidak berubah yaitu putih tebal – kehitaman. Lontaran material pijar dan sembuaran lava pijar masih berlangsung dan jatuh ke dalam dan sekitar kawah aktif.
Dari kegempaan, berupa jumlah kejadian gempa letusan condong meningkat, namun tidak diikuti oleh peningkatan energi letusan secara kumulatif (RSAM).
Emisi gas SO2 menunjukkan tonase yang meningkat, pengukuran terkendala akibat puncak G. Slamet sering tertutup kabut.
Suhu air panas di dua lokasi pengamatan belum menunjukkan pada suhu normal, bahkan masih tampak cenderung meningkat.

VII. Ancaman Bahaya Letusan G. Slamet

Dengan memperhatikan hasil pengolahan data, maka ancaman bencana letusan G. Slamet secara langsung/dampak letusan relatif kecil atau dapat dikesampingkan, kecuali

ancaman hujan abu hasil letusan yang kemungkinan besar melanda:

– Kecamatan Bojong dan Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal.

– Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.

Abu letusan dapat merusak tanaman, jika terhirup oleh manusia dapat menyebabkan insfeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Hal yang perlu diwaspadai jika aktivitas letusan G. Slamet membesar adalah wilayah di sekitar Guci, yang merupakan bukaan langsung dari puncak G. Slamet.

VIII. Kesimpulan

– Aktivitas vulkanik G. Slamet belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, hal ini ditunjukkan masih sering terekam gempa letusan, ketinggian material letusan, energi letusan dan suhu air panas di Pasepuhan dan Pandansari. Namun demikan dari hasil pengolahan data tidak menunjukkan kecenderungan peningkatan kegiatan.

– Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka status G. Slamet masih tetap pada status Siaga (Level III).

IX. Rekomendasi

Sehubungan dengan status G. Slamet Siaga (Level III), kami merekomendasikan sebagai berikut :

1. Tidak melakukan pendakian ke puncak G. Slamet.

2. Jika terjadi hujan abu lebat, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan, juga menutup sumber air agar tidak tercemar abu vulkanik.

3. Belum perlu dilakukan pengungsian

4. Kegiatan wisata di sekitar G. Slamet agar berjalan seperti biasa.

5. Pemerintah Daerah hendaknya mensosialisaikan rekomendasi ini kepada masyarakat di sekitar G. Slamet

6. Masyarakat di sekitar G. Slamet diharap tenang, melakukan kegiatan seperti biasa dan tetap Siaga, tidak terpancing isyu-isyu tentang letusan G. Slamet. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten (Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, Purbalingga) tentang aktivitas G.Slamet.

7. Masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari aparat Pemerintah Daerah.

8. Pemerintah Daerah senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung. (Hasil evaluasi kegiatan G.Slamet ini dapat di “down-load” di http://www.vsi.esdm.go.id).

a.n Kepala Badan Geologi

Kepala Pusat Vulkanologi dan

Mitigasi Bencana Geologi

Dr. Surono

NIP. 100008418

Sumber:
http://portal.vsi.esdm.go.id/joomla/index.php?option=com_content&task=view&id=481&Itemid=1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: