Siapa penulis MENTARI?

Siapa penulis MENTARI?

MENTARI

Mentari menyala di sini

Di sini di dalam hatiku

Gemuruh apinya di sini

Di sini di urat darahku

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku

Berlapis pagar duri sekitarku

Tak satu pun yang sanggup menghalangiku

Bernyala di dalam hatiku

Hari ini hari milikku

Juga esok masih terbentang

Dan mentari kan tetap menyala

Di sini di urat darahku

(karya Abah Iwan Abdulrachman, 1978)
*****

Iwan Ridwan Armansjah Abdulrachman atau lebih dikenal sebagai Abah Iwan Abdulrachman lahir tanggal 3 September 1947 di Desa Karangnangka, Sumedang. Seorang aktivis kepanduan, pengarung rimba dan bukit, pendaki gunung, peterjun payung, pelatih pranata kemiliteran, pesilat yang tangguh, pelopor dalam pelbagai aktivitas kepemudaan, dan penggubah lagu yang kata banyak orang mencerminkan kehalusan budi dan religiusitas yang mengharukan.

Saat usia 17 tahun (tahun 1964), Abah Iwan menggubah karyanya Balada Seorang Kelana ( http://lagualam.wordpress.com/2007/10/10/balada-seorang-kelana/ ) di puncak G. Burangrang, Bandung. Karya tsb di tahun 1973 digubah menjadi Balada Seorang Taruna ( http://abahiwan.wordpress.com/2009/01/01/taruna-angkatan-1973/ ). Abah Iwan adalah pengarang lagu-lagu populer seperti Melati dari Jayagiri, Burung Camar, dan Seribu Mil Lebih Sedepa. Namun mungkin lagu ciptaannya yang paling dekat dengan mahasiswa ITB adalah Mentari. Berkali-kali lagu ini dinyanyikan: saat Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa (OSKM), kaderisasi himpunan, sampai demo turun ke jalan. Mentari tampaknya tidak pernah lepas dari perjuangan para aktivis kampus. Liriknya sarat dengan kata-kata yang menyiratkan semangat juang.

Lagu Mentari lahir di tengah perjuangan mahasiswa tahun 1977-1978. Saat itu Abah

berusia 31 tahun. Mahasiswa menolak pencalonan kembali Soeharto

sebagai Presiden. Soeharto dianggap membodohi rakyat karena

kebijakan-kebijakannya yang dinilai berdampak buruk bagi rakyat.

Untuk meredam aksi-aksi protes mahasiswa, pemerintah memberlakukan

Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Alasannya untuk menjauhkan gerakan

mahasiswa dari politik praktis. Normalisasi ini dilakukan dengan cara

menempatkan militer di kampus-kampus. Mahasiswa diusir dari dan dilarang masuk

ke dalam kampus.

Peristiwa pengambilalihan kampus tak pelak membuat Abah gerah. Menurutnya, kampus adalah rumah mahasiswa. Konyol sekali apabila mahasiswa tidak boleh masuk ke rumahnya sendiri. Saat itu, Abah merasa tindakan pemerintah pada menginjak-injak martabat mahasiswa. Ditambah lagi, sebagai kelanjutan dari NKK, Dewan Mahasiswa (DM) di seluruh Indonesia dibubarkan. Abah kemudian menyadari betapa pentingnya sikap saling menghargai dan anti putus asa. Dari pemikiran inilah, lahir Mentari.

Menariknya, walaupun menjadi salah satu ‘lagu kebangsaan’ ITB, Abah sendiri bukanlah seorang alumnus kampus gajah. Ia adalah mahasiswa angkatan 1965 jurusan Pertanian, Universitas Padjadjaran. ”Dulu di lapangan (UNPAD, Red) saya sampai dibawa sama CPM (Corps Polisi Militer, Red) masuk penjara karena menyanyikan lagu ini, waktu jaman pergerakan itu,” kenang Abah. Lagu ini kemudian sering dia nyanyikan bersama teman-temannya di Wanadri. Rupanya oleh mahasiswa-mahasiswa ITB yang tergabung dalam Wanadri, lagu Mentari diperkenalkan kepada aktivis kampus gajah lainnya.

Kiprah Abah Iwan dalam kepedulian terhadap alam, mungkin tidak bisa dibicarakan dengan singkat. Kegiatannya di organisasi kelompok penempuh rimba dan pendaki gunung, Wanadri, masih diikuti dari tahun 1964 sampai sekarang. Ia juga diangkat sebagai penasihat Masyarakat Cinta Citarum dan anggota Komunitas Pemerhati Lingkungan Hidup ITB Masdali.

Belum lagi sosoknya sebagai seniman yang karyanya tak pernah lepas dari pergaulan dengan alam. Bagi Abah Iwan, yang baru-baru ini mendapat penghargaan dari Meneg LH sebagai budayawan dan seniman yang peduli terhadap lingkungan dalam ajang Anugerah Penghargaan Lingkungan dan Adipura 2006, alam adalah inspirasinya. Kalau orang bilang karyanya bagus, penggubah lagu legendaris semacam “Melati dari Jayagiri” dan “Flamboyan”, ini malah berujar, alam memang sudah indah.

Semasa mahasiswa, ia pun menyenangi kehidupan berorganisasi. Selain pernah menjabat sebagai Ketua Senat di Faperta Unpad selama 2 periode (1970-1974), dirinya juga aktif di Damas dan Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Baginya, mahasiswa memegang peranan penting dalam kehidupan bangsa. “Sudah terbukti dalam sejarah, tiap pergerakan apapun pasti ada mahasiswa. Namun, itu jangan dijadikan status, tapi tingkatkan terus kualitas,” kata mantan dosen Fakultas Pertanian Unpad dan penggubah lagu Hymne Unpad ini.

Referensi:

http://lagualam.wordpress.com/2007/10/04/mentari/

http://mocchii-basi.blog.friendster.com/2008/08/mentari-bernyala-di-sni/

http://en.wordpress.com/tag/abah-iwan/

http://aki2005.multiply.com/reviews/item/1

http://namanyapa.blogspot.com/2009/01/mengembaralah-selagi-masih-muda.html

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/02/01291224/rasa.nasionalisme

http://merdeka7.wordpress.com/2007/04/18/

***

4 Tanggapan

  1. hehehehe…kesimpulannya adalah nama iwan identik dengan prestasi…bukan begitu mas iwan? 😀

  2. nice blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s