Kartini : Dari Gelap Menuju Cahaya

Kartini dan Muslimah Sejati

Penulis : Arda Dinata

(sumber: http://kotasantri.com/pelangi/muslimah/180/kartini-dan-muslimah-sejati )

Kekuatan informasi sungguh luar biasa pengaruhnya terhadap publik. Buktinya, sosok Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya, Door Duisternis Tot Licht, yang terlanjur diartikan oleh Armijn Pane sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.

Padahal, menurut versi Prof. Dr. Haryati Soebadio (cucu tiri R.A. Kartini), mengartikan Door Duisternis Tot Licht, sebagai Dari Gelap Menuju Cahaya, yang bahasa Arabnya Minazh-Zhulumaati Ilan-Nuur. Kalimat ini merupakan inti dari Panggilan Islam. Maksudnya tidak lain membawa manusia dari kegelapan (kejahiliyahan atau kebodohan hidayah) ke tempat yang terang benderang.

Karena berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya, tapi cahaya itu belum sempurna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh atmosfir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini kembali kepada Pencipta, Pemilik, Pemelihara, dan Penguasanya, sebelum ia menyelesaikan usahanya untuk mempelajari Al-Islam dan mengamalkannya sesuai dengan cita-citanya seperti yang pernah ditulis Kartini dalam suratnya kepada Ny. Van Kol, 21 Juli, 1902, yaitu, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”

Dengan demikian, Kartini sebenarnya ingin menjadi muslimah sejati. Buktinya, seperti diceritakan Asma Karimah (1991), pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Qur’an). Ibu guru mengajinya memarahi dia dan menyuruh Kartini ke luar ruangan ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Al-Qur’an yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu, timbullah penolakan pada diri Kartini (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1890 dan E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902).

Akhirnya, pada suatu ketika, Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Dan kebetulan saat itu sedang ada pengajian bulanan khusus anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut. Kartini tertarik kepada materi pengajian (tentang tafsir Al-Fatihah) yang disampaikan Kyai Haji Muhammad Shaleh bin Umar, seorang ulama besar dari Semarang.

Setelah selesai acara pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Shaleh Darat.

“Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seseorang yang berilmu, namun dia menyembunyikan ilmunya?” tanya Kartini.

Tertegun Kyai Shaleh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.

“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Shaleh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.

“Kyai, selama hidupku, baru kali ini aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al-Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an itu justeru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Singkat cerita, Kyai Shaleh Darat pada hari pernikahan Kartini menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Qur’an (Faizhur Rahman Fit Tafsiril Quran), Jilid I (13 Juz : Surat Al-Fatihah – Surat Ibrahim).

Sejak saat itu, mulailah Kartini mempelajari Islam yang sebenarnya. Tapi sayangnya, setelah itu Kyai Shaleh meninggal dunia, sehingga Al-Qur’an tersebut belum semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Qur’an), maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap kemuslimahannya (termasuk jilbab).

***

Profil Muslimah Sejati

Kartini adalah sosok wanita Indonesia. Islam jauh-jauh hari telah menempatkan wanita dalam posisi yang terhormat. Wanita merupakan sosok manusia dengan seperangkat potensi yang ada dalam dirinya. Wanita dalam bahasa Nurul Husna (1999), diungkapkan bahwa seperti halnya laki-laki, wanita memiliki seperangkat potensi berupa akal, kebutuhan jasmani, dan naluri (naluri untuk mempertahankan diri, untuk melestarikan keturunan, dan untuk beragama).

Lebih jauh diungkapkan, seiring dengan adanya potensi tersebut, Allah SWT menetapkan keduanya untuk menempati posisi dan peran yang beragam, yaitu sebagai hamba Allah, sebagai anggota keluarga, dan sebagai anggota masyarakat, maka sesungguhnya pandangan Islam tidak bisa dikatakan mengalami bias gender, karena Islam kadangkala berbicara tentang wanita sebagai wanita (misal dalam soal haid, mengandung, melahirkan, menyusui) dan kadang pula berbicara tentang wanita sebagai manusia tanpa dibedakan dari laki-laki, misal dalam hal kewajiban shalat, zakat, haji, akhlak mulia, amar ma’ruf nahi mungkar.

Dalam hal ini, ditegaskan pula bahwa kedua pandangan tersebut sama-sama bertujuan mengarahkan wanita secara individual sebagai manusia mulia, dan secara kolektif, bersama kaum lelaki, menjadi bagian tatanan (keluarga dan individu) yang harmonis.

Atas dasar itulah, setiap muslimah, harus memposisikan diri dalam berperilaku dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga dampaknya dapat menjadi andalan panutan bagi sang anak (menjadi profil wanita muslimah). Dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah, dapat kita temukan gambaran dari profil wanita muslimah ini. Salah satu di antaranya disebutkan bahwa wanita sebagai tiang ummat (QS. Al-Qashash : 7-13). Sementara itu, gambaran pribadi wanita shalihah terungkap dalam QS. At-Tahrim : 10-12.

Wanita shalihah adalah sebaik-baik hiasan. Menurut Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya menyebutkan, “Tidaklah orang mu’min mendapat keberuntungan sesudah taqwa kepada Allah Azza wa Jalla, yang lebih baik dari pada wanita shalihah. Ialah wanita yang apabila disuruh ia taat, apabila dipandang ia menyenangkan, apabila diberi bagian ia menyambut baik, dan apabila suaminya tidak ada dia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (HR. Ibnu Majah).

Wanita adalah calon ibu. Artinya, setiap wanita harus memposisikan sebagai muslimah sejati dalam hidupnya, sehingga kehidupan rumah tangga, berbangsa akan menjadi harmonis. Inilah cita-cita Kartini yang kelihatannya perlu diwujudkan dan diteruskan oleh kaum wanita (muslimah) saat ini agar menjadi pigur keteladanan bagi anak-anaknya. Untuk itu, semoga wanita-wanita Indonesia menjadi muslimah sejati seperti keinginan ibu Kartini. Amin.

Wallahu a’lam.

*(baca juga di: http://swaramuslim.net/more.php?id=5557_0_1_0_M )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: